Perak Olimpiade

Oktober 1, 1988 oleh ssehati

prediksiku tepat, saat itu saya di mobil tumpangan teman. Didalamnya ada pak sopir, rizki alias kiki sang  juragan, suryo dan saya sendiri. waktu itu saya mengatakan kalau medali olimpiade pertama bukan datang dari bulutangkis pada tahun 1992 yang akhirnya direbut oleh susi susanti dan alan budikusuma. Saya memprediksikan kalau Indonesia akan meraih medali olimpiade untuk pertama kalinya tahun 1988 di Seoul melalui cabang olahraga Panahan. Medali yang didapat minimal perak. dan itupun terjadi

High School, I’m Coming!

Juli 25, 1988 oleh ssehati

Berbekal map sewarna dengan teman teman, berangkat bersama naik metromini P15 bermaksud mendaftarkan diri ke jenjang yang lebih tinggi. SMA Negeri 4, sekolah favorit waktu itu. Sebenarnya dengan nilai yang kudapat saat itu saya dapat diterima di SMA lain yang juga favorit. Hanya sayang karena faktor ikut ikutan akhirnya kupilih yang teman-teman pilih sehingga kami tetap bersama dalam menempuh jejang sekolah berikutnya.

Turun dari metromini kami menyebrang jalan menuju ujung Jl. Batu III, alamat SMA berada. Sebelum kaki ini mencapai ujung jalan itu hatiku sempat berbisik, “Lulus dari SMA ini saya bertekad harus sudah mampu membaca Qur’an dan menjalankan shalat 5 waktu”. Dan kemudian, waktupun berlalu….

Bersama PMR

Juli 17, 1988 oleh ssehati

Kak Didot, Kak Kiki, Kak Boy, itu saja yang diingat. Mengapa memilih PMR, jawabannya sungguh sederhana, karena dalam sumpah atau janjinya tidak menyebutkan kalimat ‘bertaqwa kepada tuhan YME’. Sekali lagi saya bukannya anti tuhan tetapi karena saya meresa tidak konsekuen dengan ucapan saya. Alasan kedua karena dalam PMR yang diajarkan fokus pada pertolongan pertama, tidak ada yang namanya baris berbaris, semaphore, sandi atau apapun namanya yang sudah saya pelajari di Pramuka.

Kegiatan mingguan diisi dengan latihan membuat tandu dan P3K, latihan gerak jalan dilakukan hanya kalau ada perlombaan saja. Tiap akhir semester 1biasanya diadakan Lomba Tingkat II disingkat LT II, lomba dilaksanakan di cibubur untuk wilayah Jakarta Pusat. Pada LT II 1985, akhir Desember 1985, kami satu tenda dengan SMP Perguruan Cikini. Yang saya ingat adalah Boyke Bader Brilianto, lalu ada sony, Arif dan Vito. Pada malam unggun sekolah kami menampilkan ‘acapela’ lagu-lagu The Beatles, kelompok lagu yang jadi langganan PMR SMP kami.

Pada tahun kedua, LT II diadakan lagi di Cibubur. Anggota PMR kami bertambah beberapa orang, Erwan teman sekelas adalah salah satu anggota baru tersebut. Anak betawi gila dangdut. Hari-hari LT II sih tidak ada masalah. Yang jadi masalah justru malam api unggun. Dengan pedenya teman saya itu membawa alat musik ‘modern’, tamborin ! Bah, bagaimana ceritanya SMP kami membawkan lagu The Beatles diiringi tamborin. Langsung deh teman teman pada ngacir ke tenda. Dia sendiri bergabung dengan teman lain sealiran.

Pada saat kelas III diadakan Jumpa Bakti Gembira (Jumbara), yaitu lomba ketrampilan antar Kotamadya se DKI. Saya bertugas sebagai tim P3K kelompok SMP. Saat perlombaan ternyata kodya JakPus sebagai penampil pertama setelah upacara pembukaan. Setelah upacara pembukaan selesai maka tim Jakpus langsung bersiap mulai dari kelompok SMP, SMA dan KSR langsung memulai aksinya di depan tribun.

Tak disangka ternyata para senior memerintahkan skenario darurat dimana kami para tim P3K dengan sengaja naik ke podium dengan membawa ‘pasien’. Ceritanya podium yang tinggi itu adalah bukit yang harus didaki. Akan tetapi walaupun dengan skenario yang keren itu, tetap saja Tim Jakpus tidak meraih juaran dalam lomba tersebut.

Di Jumbara ini saya mendapatkan tanda tangan MbaK Titik Puspa my favourite artist dan Anggun C. Sasmi , itu lho pemilik lagu Snow On The Sahara. Kenangan bersama PMR ini salah satu kenangan terbaik dalam sejarah hidup. Demikian catatan akhir saya bersama PMR ini dibuat, adapun kekurang ingatan akan ditambah kembali suatu saat.

Mars PMI

Mochtar. H.S

Palang Merah Indonesia
Sumber Kasih Umat Manusia
Warisan luhur nusa dan bangsa
wujud nyata pengayom Pancasila

Gerak juangnya ke seluruh nusa
Mendarmakan bakti bagi ampera
Tunaikan Tugas Suci
Tujuan PMI
di persada Bunda pertiwa
Bagi Umat manusia di penjuru dunia
PMI mengantarkan jasa

Mars Palang Merah Remaja

Bhakti PMR

Palang Merah Remaja Indonesia warga Palang Merah sedunia
Berjuang berbakti penuh kasih sayang untuk rakyat semua
Bekerja dengan rela tulus ikhlas untuk yang tertimpa sengsara
Puji dan puja tidak dikejar… mengabdi tuk sesama…

Putra Putri Palang Merah Remaja Indonesia
Abdi rakyat sedunia luhur budinya
Putra Putri Palang Merah Remaja Indonesia
Abdi rakyat sedunia mulya citanya

Saos A & W

Juli 1, 1988 oleh ssehati

Makan di restoran pertama kali waktu ulang tahun Nanda. Kami naik metromini P15 arah senen. Turun di Jl. Sabang trus langsung masuk ke restoran cepat saji yang waktu itu terbilang langka. Soalnya yang namanya McD saja belum ada.

Masuk restoran kami langsung pesan makanan. Saya bingung karena memang gak tau harus pesan apa. Ya sudah, ikut pesanan teman saja biar gak pusing. Pesanan diambil, isinya 2 ayam, nasi dan minuman segelas. Aneh banget makan ayam kok cuma begini doang. Biasanya yang namanya olahan ayam tuh di opor, atau pada umumnya diolah dengan bumbu yang yahuuuud, olahan ayam yang biasa dibikin emak waktu lebaran. Tapi ini kok ayam cuma ditepungin doang. Tapi anehnya, walau cuma ditepungin harganya kok selangit ya. Dah ah, ikut teman dulu keatas buat ngabisin nih ayam.

Sesampai di atas saya langsung cari meja teman-teman. Lho, kok semuanya dah pakai sambel. Darimana tuh sambel ya? “Ambil disitu kun” kata seorang teman. Ooh… yang seperti keran itu. Siip…. Sesampai di tempat sambal bingung lagi, bagaimana cara ngeluarin sambalnya. Soalnya saya puter seperti keran gak mau keluar. Wah, kalau tanya teman nanti diketawain bisa malu nih. Akhirnya cari akal, pura-pura cuci tangan aja sambil ngintip kalau ada yang lagi ambil sambal. Akhirnya gak terlalu lama datang orang ngeluarin tuh sambal dari tempatnya.

Ternyata bukan diputar melainkan di pencet! Huh… nyusahin…

Dinding Siluman

Juni 1, 1988 oleh ssehati

Sumitmas nganter STNK Mas Nanto. Nabrak dinding kaca

Kamerun VS Argentina

Juni 1, 1988 oleh ssehati

Malam itu di tepian pantai laut selatan, saya dan teman-teman KIR SMA sedang asyik ngobrol menatap gelapnya malam. Saat itu pembukaan Piala Dunia yang akan menggelar pertandingan perdana Argentina sebagai juara bertahan melawan Kameraun. Saya dengan tidak sengaja memprediksi kalau Kamerun pasti menang melawan Argentin dengan skor 1-0. Dan prediksi itu kembali terjadi

Trio Korban Tawuran

Juni 1, 1988 oleh ssehati

Sebenarnya sih kami bertiga tidak pernah menjadi korban. Tapi entah kenapa saat kelas I SMA setiap kami bertiga pulang sekolah sudah dua kali hampir menjadi bulan-bulanan anak sekolah lain.

Saya bersama Deni Tardianto dan Fery Yuswanto pertama kali hampir menjadi korban saat di depan dubes amerika.

Kedua saat bus kami sudah mencapai tosari, dukuh atas.

Kak Udin, Thanks

Juli 17, 1987 oleh ssehati

“Pramuka itu di hati bukan di simbol”, kata kak udin. Ini saya ingat benar ketika kami kemping bersama dengan gugus depan lain. Memang kakak pembinaku rata-rata ’slebor’. Yang namanya seragam pramuka cuma celana dan baju coklat standar pramuka ditambah tanda pelantikan di saku kiri dan tanda kwartir di lengan kanan. Pakai kacu kadang-kadang saja. Itulah sebabnya ada pembina dari gudep lain yang mengkritik cara berseragam kakak pembina kami. Akan tetapi kalau kita mengikuti tindak-tanduknya, memperhatikan kreativitasnya, riang gembira yang tiada terkira. Sisa-sisa terakhir semangat kepanduan yang kini telah lama hilang. Kak Udin, Kak Ely, Kak Rahman, Kak Wito, Kak Edward, Kak Pusdi dan lain-lain, mereka mungkin bisa disebut the last boy scout…

Ketika pramuka ini saya paling anti membaca bagian pertama dari dasa darma pramuka. Soalnya isinya berat, coba saja baca ini :

  1. Trisatya Pramuka Penggalang

    Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :

    • menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila
    • menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat
    • menepati Dasadarma.
  2. Ketentuan moral yang disebut Dasadarma selengkapnya berbunyi sebagai berikut :

    Dasadarma

    Pramuka itu :

    1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
    2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
    3. Patriot yang sopan dan kesatria
    4. Patuh dan suka berMusyawarah
    5. Rela menolong dan tabah
    6. Rajin, terampil, dan gembira
    7. Hemat, cermat, dan bersahaja
    8. Disiplin, berani, dan setia
    9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
    10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Yang jadi masalah adalah dasadarma yang pertama. Saya sungguh berat mengucapkan itu. Bagaimana mungkin saya ucapkan, yang namanya sholat saja tidak pernah. Mengaji? saya termasuk yang buta huruf hijaiyah. Maka setiap dasa darma dibacakan, saya tidak pernah mengulangnya walau dalam hati.

Kemping pertama kali di cibubur, kelas IV. Banjir pada malam terakhir, pada hari minggunya semua sisa makanan dibuat jus ‘kacau’ soalnya semua bahan makanan sisa dijadikan satu. tempe campur susu. Kadang kami mengadakan Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu) di sekolah. Seperti biasa yang namanya berkemah di sekolah tetap saja orang tua hadir untuk mengunjungi anak-anaknya. Gak berkesan.

Ultah Gudep

Yang namanya ulang tahun Gugus Depan kami bisa dipastikan kehebohannya. Mungkin di wilayah kami perayaan gudep kamilah yang paling meriah. Beberapa tahun berturut-turut perayaan ulang tahun selalu diisi dengan tari masal yang diikuti banyak penari siaga dan penggalang. Parade tarian dari yang tradisional sampai modern bercampur baur. Tidak ketinggalan pula koreografer ala Swara Mahardhika. Pokoke bagi teman SD yang mengingat ini akan terkenang kehebatan gugus depan kami.

TKK.

Ini adalah kisah pencarian jati diri, pencarian hakekat simbol dan makna. Setiap melihat simbol-simbol yang dipakai para tentara, ormas, organisai kepemudaan, atau apapun namanya saya selalu teringat masalah ini. Mulanya saya melihat anggota pramuka dari gudep lain yang begitu gagah memakai selempang tempat menyematkan TKK jika jumlahnya melebih 5 buah.

Wah, kalau saya memakai itu juga rasanya cukup ok. Soalnya di kelas, apalagi di sekolah belum ada seorangpun yang memakai TKK. Lalu saya mengajukan permohonan TKK kepada kakak pembina. Mereka mulanya tidak memberi, akan tetapi saya mempunyai alasan untuk memakai TKK gerak jalan, berkemah, membaca, memasak, pengamat. Setelah berargumen akhirnya kakak pembina memberikan TKK yang saya maksud. Hati riang karena hanya saya yang memakai tanda ini di sekolah.

Lalu besok-besoknya saya minta tambahan TKK lagi, soalnya kalau cuma lima tidak bisa memakai selempang. Untuk tambahan TKk ini saya tidak diberi ijin. Sedihnya… Ketika saya jalan-jalan ke Bendungan Hilir, rupanya ada toko yang menjual peralatan pramuka, TKK salah satunya. Saya beli saja beberapa tanda tanpa ijin kakak pembina lalu saya pasang di selempang yang saya beli di tempat itu juga.

Besoknya ketika hari berseragam pramuka, saya pakai selempang disertai Tanda Kecapakan khusus yang jumlahnya hampir 10 buah. Gagah euy! Beberapa waktu kemudian saya berpikir, mengapa kakak pembina tidak melarang saya atau menegur atau merampas tanda-tanda yang saya pakai? saya berpikir dan akhirnya mengambil kesimpulan bahwa tanda hanyalah tanda, baik itu TKK, kepangkatan, simbol-simbol. Mereka tidaklah bermakna, mereka tidak mewakili apapun. Karena simbol-simbol itu mudah dibeli, dan sebenarnya tanda kehormatan itu adanya di dalam hati. Ya, yang mengetahui apa dan siapa kita adalah kita sendiri bukan simbol-simbol itu.

Demikian catatan akhir pengalaman saya bersama Pramuka Gugus Depan 217-218 Faletehan.

Kesombongan itu…

Juni 1, 1987 oleh ssehati

1987 tahunnya, masih puber-pubernya. Aku ikut perpisahan SD ke pantai Anyer. Singkat cerita aku seperti yang lainnya naik ban dalam sebagai pelampung. berkhayal seperti orang kaya. Tak sadar kalau lambat laun aku terbawa arus balik ombak semakin menjauhi pantai.

Aku sadar kalau semakin jauh. Akan tetapi ketika melihat dasar laut yang masih terlihat dangkal akupun berpikir,” Ah masih cetek, lagipula kan sekarang aku sudah dewasa. Kakiku sudah panjang. Dengan mudah pasti akan mudah mencapai pantai berjalan kaki mengandalkan kakiku yang sudah panjang ini.” Demikianlah kesombongan itu akhirnya melupakan hukum alam.

Akupun mencoba untuk menjejak dasar laut. Sambil berpegang pada ban kujajal dasar laut sedalam apa sebenarnya. Sial, ban dalam itu licin dan tangan terlepas pegangannya. Akupun jatuh bebas ke dasar laut. Ini akhirnya akhir hidupku pikirku saat itu. Ah.. kematian itu akhirnya di depan mata. Detik-detiknya masih teringat. Ternyata setiap menjelang kematian waktu seperti berjalan melambat. Demikian yang kurasa.

Aku merosot terus ke dasar laut. Mati terlintas. Akan tetapi keinginan untuk tetap hidup juga masih ada. Ilham itupun datang, aku teringat ucapan guru olahraga SMP ku, Pak Ali almarhum. Beliau pernah mengatakan,”Kalau kalian tenggalam jangan panik dan jangan gerakkan kaki. Biarkan saja tenggelam sampai ke dasar. Lalu kalau sudah sampai dasar jongkoklah kemudian tekan kaki untuk meluncur ke atas.”

Ingat akan hal itu akupun langsung melaksanakan nasehatnya. Kubiarkan badan ini meluncur ke bawah. Sesampai di dasar kutekuk kaki lalu kutekan hingga aku meluncur ke permukaan air. Sesampai di permukaan kuminta tolong lalu badan ini meluncur lagi ke dasar lautan. Kuulang gerakan tadi, menekuk lutut kemudian naik ke permukaan lagi. Pada peluncuran ketiga akhirnya aku tertolong oleh seseorang. Alhamdulillah ku masih hidup lagi. Terima kasih kepada orang yang telah menolongku waktu itu.

Mudahnya Memaafkan

Februari 20, 1987 oleh ssehati

Beruntung juga saya mempunyai sahabat yang satu ini, teman sebangku kelas II, musuhan lagi, tidak tahu sebabnya lagi. Tapi kali ini dia yang dengan gentle datang ke rumah dan meminta maaf.  Memaafkan tidak terlalu sulit kok!