Masjid utama saya adalah Masjid Mahabatillah, lokasinya dekat dengan kali krukut. Guru mengaji yang masih saya ingat adalah Pak Mahmud. Dimasjid ini saya pernah belajar mengaji. Seperti biasanya, umur belajar mengaji saya tidak lebih dari dua hari. Malas bukan sebab utama mengapa saya tidak mau belajar mengaji. Hal pertama yang menyebabkan saya tidak mengikuti pengajian adalah karena gurunya yang galak.
Yang dimaksud galak menurut saya sangat tidak masuk akal. Coba anda bayangkan, kalau anda belajar baca qur’an pertama kali dan baru pada hari itu belajar membaca qur’an maka apakah wajar kalau kita sama sekali tidak tahu huruf atau susunan huruf apa yang ditunjuk oleh guru ngaji itu. Begitulah yang saya alami. Pada hari pertama belajar membaca qur’an saya langsung disuruh membaca, lha bagaimana ini? dan konsekuensi dari ketidakmampuan membaca adalah…. pukulan atau sabetan. Beuh, saya datang ke tempat suci ini untuk belajar karena saya tidak tahu. Saya datang tidak untuk minta dipukul. Jadi demikianlah selama bertahun tahun saya tersesat dalam kebutaan huruf hijaiyah sampai akhirnya saya berhasil membuka mata saat pertengahan kelas III SMA.
Alasan kedua adalah akhlak guru. Di Masjid Mahabatillah ini saya bermaksud belajar langsung dari Pak Mahmud karena dimata saya beliau adalah sosok yang menyejukkan. Raut wajahnya lembut, tutur katanya halus. Makanya saya semangat sekali untuk belajar padanya. Namun apa daya, ketika giliran saya untuk diajar malah dilempar ke salah satu muridnya yang saya sangat tahu bagaimana kelakuannya di luar masjid. Saya yang tidak paham agama sangat tahu kalau dalam Islam pergaulan pria dan wanita sangat diatur dan orang yang mengajar saya ini sudah terekam jelas reputasinya. Sayapun keluar lagi dari pengajian.
Masjid Al Khair di Gang Mas dekat sma 35 adalah masjid langganan shalat jum’at.
Masjid Al Abror di Benhil belakang pasar menjadi tempat favorit shalat taraweh.



