Arsip untuk ‘Pertumbuhan’ Kategori

Masjid-masjid

Agustus 22, 1991

Masjid utama saya adalah Masjid Mahabatillah, lokasinya dekat dengan kali krukut. Guru mengaji yang masih saya ingat adalah Pak Mahmud. Dimasjid ini saya pernah belajar mengaji. Seperti biasanya, umur belajar mengaji saya tidak lebih dari dua hari. Malas bukan sebab utama mengapa saya tidak mau belajar mengaji. Hal pertama yang menyebabkan saya tidak mengikuti pengajian adalah karena gurunya yang galak.

Yang dimaksud galak menurut saya sangat tidak masuk akal. Coba anda bayangkan, kalau anda belajar baca qur’an pertama kali dan baru pada hari itu belajar membaca qur’an maka apakah wajar kalau kita sama sekali tidak tahu huruf atau susunan huruf apa yang ditunjuk oleh guru ngaji itu. Begitulah yang saya alami. Pada hari pertama belajar membaca qur’an saya langsung disuruh membaca, lha bagaimana ini? dan konsekuensi dari ketidakmampuan membaca adalah…. pukulan atau sabetan. Beuh, saya datang ke tempat suci ini untuk belajar karena saya tidak tahu. Saya datang tidak untuk minta dipukul. Jadi demikianlah selama bertahun tahun saya tersesat dalam kebutaan huruf hijaiyah sampai akhirnya saya berhasil membuka mata saat pertengahan kelas III SMA.

Alasan kedua adalah akhlak guru. Di Masjid Mahabatillah ini saya bermaksud belajar langsung dari Pak Mahmud karena dimata saya beliau adalah sosok yang menyejukkan. Raut wajahnya lembut, tutur katanya halus. Makanya saya semangat sekali untuk belajar padanya. Namun apa daya, ketika giliran saya untuk diajar malah dilempar ke salah satu muridnya yang saya sangat tahu bagaimana kelakuannya di luar masjid. Saya yang tidak paham agama sangat tahu kalau dalam Islam pergaulan pria dan wanita sangat diatur dan orang yang mengajar saya ini sudah terekam jelas reputasinya. Sayapun keluar lagi dari pengajian.

Masjid Al Khair di Gang Mas dekat sma 35 adalah masjid langganan shalat jum’at.

Masjid Al Abror di Benhil belakang pasar menjadi tempat favorit shalat taraweh.

Getek

Agustus 22, 1991

Bagi warga kami terutama dari Rw 01 s.d. Rw 03 hampir bisa dipastikan menggunakan jasa penyeberangan yang namanya getek ini. Untuk melintasi kali krukut sebenarnya bisa melalui jembatan dekat masjid Mahabatillah. Akan tetapi rasanya cepat sampai kalau kita menggunakan rute getek yang letaknya di Rw 01.

Getek terbuat dari papan kayu yang diberi tuduh penahan hujan dan panas. Otot adalah sumber tenaga yang dipakai untuk menggerakkan getek. Caranya ialah, pada salah satu ujung tiang getek terdapat tiang. Pada tiang inilah dipasang besi tempat melintas tambang baja yang ujung-ujungnya diikat di kedua sebrang sungai.

Tepat dibawah besi tempat tambang baja diletakkan kotak kayu ukuran tidak terlalu besar tempat konsumen memberikan uang jasa. Tapi bagi anak sekolah kadang-kadang uang jasa itu tetap bersemayam dikantongnya saja. Jam operasional getek ini hampir dipastikan 24 jam, soalnya dibagian belakang seperti ada dipan buat tidur.

Wajib Nonton dan Benhil Bobrok

Agustus 22, 1991

Waktu SD sering ada kewajiban bagi anak-anak untuk nonton film bioskop dengan tema perjuangan, misalnya film Janur Kuning, Serangan Fajar, Pasukan Berani Mati. Mungkin kewajiban menonton ini salah satu program pemerintah untuk menumbuhkan cinta tanah air.

Bagi kami anak-anak yang namanya nonton di bioskop adalah hal langka, jadi tawaran nonton di bioskop adalah salah kesempatan merasakan hidup agak ‘mewah’. Film biasanya diputar di bioskop Benhil yang letaknya di lantai dua pasar Benhil. Bioskop yang hanya memiliki satu layar itu dan memang saat itu setiap bioskop hanya memiliki satu layar. Sedangkan bioskop Benhil yang satunya lagi tidak pernah kami gunakan untuk nonton film wajib. Warga sekitar menujuluki bioskop ini Benhil Bobrok.

Sebenarnya nama bioskop ini adalah Bioskop Benhil, julukan bobrok bisa dinilai dari deskripsi sebagai berikut :

  1. Yang disebut kursi adalah bangku panjang terbuat dari papan yang disekat untuk meletakkan tangan. Ini cukup aneh mengapa lengan kursi hanya untuk satu orang padahal jelas-jelas kalau kita duduk bersebelahan otomatis dibutuhkan dua lengan kursi. Mungkin agar bisa pegang-pegangan.
  2. Karena terbuat dari kayu maka disarankan agar membawa obat kutu busukuntuk mengurangi resiko digigit kutu atau bisa disebut ‘bangsat’.
  3. Letak bangku yang ‘flat’ dari depan ke belakang membuat orang yang duduk di belakang terpaksa jongkok atau duduk di sandaran kepala.
  4. Jangan lupa bawa ‘lotion’ anti nyamuk
  5. Boleh protes kalau film tiba-tiba ngadat atau film terlalu lama dimulainya. Cukup demokratis.
  6. Kalau film baru setengah main ada jam istirahat dimana penonton bisa membeli makanan dan minuman dahulu.
  7. Karena posisi bioskop lebih rendah dari kali krukut maka kalau musim hujan harap sandal ditenteng dan duduklah dengan manis di papan sandaran kepala karena tempat duduknya terendam air. Jangan lupa sandal selalu dipegang, kalau lepas harus siap siap keliling bioskop mencari sandal yang hanyut.
  8. Bagi anak-anak yang ingin nonton gratis ada beberapa cara untuk masuk. Yang paling favorit adalah masuk dengan cepat dan kalau ditanya karcisnya mana bilang saja “karcisnya sama yang di belakang bang” lalu kabur cepat masuk ke bioskop. Atau pura-pura menjadi adik dari orang yang mau bantu, syukur-syukur ada yang kasihan.

Kalau lebaran tiba saat siang hari hampir pasti bioskop ini penuh oleh calon penonton yang dompetnya lagi penuh uang angpaw. Film-film Dono Kasino Indro jadi langganan lebaran. Saat ini bioskop tersebut sudah almarhum, digantikan apartemen mewah. Mudah-mudahan apartemennya tidak disebut ‘Apartemen Bobrok’

Cecep

Agustus 22, 1991

Ini adalah tokoh yang sangat terkenal. Cecep panggilannya. Tidak jelas masa lalunya. Yang teringat adalah orang ini pernah telanjang bulat saat idul fitri. Dia asyik nongkrong di tembok yang menjadi tempat masuk ke rumah saya. Jadilah anak-anak takut untuk minta duid lebaran ke ‘rumah’ saya.

Pernah juga ketika ramai-ramainya kasus Petrus (penembakan misterius) orang ini tiba-tiba menghilang. Katanya sih untuk menghilangkan tatonya. Memang benar, ketika muncul kembali tato yang mulanya menghias tubuh sudah hampir luntur. Sepertinya dihapus paksa dengan setrikaan. Saat ini saya tidak tahu keberadaannya.

Pak Tejo

Mei 22, 1985

Ini pengusaha warungan sukses dikampungku. Letaknya bersebelahan dengan warung Pak Parjan, akan tetapi warung ini laris sekali. Awal kesuksesannya warung Pak Tejo sempat diisyukan memelihara tuyul. Saya dan teman-temanĀ  tentu saja heboh, namanya juga anak kecil. Akan tetapi mungkin waktu itu Pak Tejo tidak peduli dan terus saja berjualan. Lama kelamaan warungnya memang menjadi besar, saat inipun ketika sudah pindah ke Cibitung beliau masih membuka usaha warungan termasuk anak-anaknya dibuatkan warung.

Lokasinya yang berada di ujung gang membuat warung ini selalu jadi tempat tongkrongan anak-anak. Apalagi ketika tempat arang yang berada diluar dibuatkan kotak kayu, diatasnya otomatis jadi tempat duduk anak-anak. Pun ketika sore hari, persis di depan kotak kayu tadi gerobak bubur ayam sudah hadir tepat waktu.

Setiap lebaran dan perhelatan ‘Jakartaper’ anak-anak Pak Tejo selalu membeli barang-barang baru. Kami yang hidupnya hanya pas-pasan cuma bisa melihat dan meminjam saja. Zulham, Sulis dan Fajar adalah anak-anaknya yang laki-laki. Perkelahian antar tiga anak lelaki itu sudah rutin. Ketiga anak perempuannya Yayuk, nining,… (lupa)

Bu Bidan

Februari 5, 1984

Bersama Bu Bidan (panggilan akrab Bu Uyun) saya pernah diajak jalan jalan ke Taman Ria Monas (saat ini taman tersebut sudah digusur) bersama kedua anaknya Ilham dan Vanti. Senang rasanya. Puas bermain main di taman ria, saya ditraktir mie ayam yang saat itu baru muncul. Wah yang namanya makan mie ayam saat itu seperti makan makanan mewah.

Terima kasih bu bidan, selain telah menolong menjahit kepalaku, kaupun mau mengajakku jalan jalan. Dan karena anakmu jugalahlah maka saya mulai mengenal yang namanya novel, lima sekawan, karena sebelum itu bacaanku hanya majalah dan komik saja.

Telur Ayam Emak

Mei 23, 1981

Makan mewah kalau ayam bertelur saja. Kadang telurnya cuma sebutir harus dibagi hampir 5 anak. caranya adalah…. dibuat nasi goreng. jadi kebagian semua. huebat!

Ebiet G. Ade

Mei 24, 1980

Sungguh sebuah keberuntungan besar bagiku, ketika jiwa ini masih polos dan bersih, kakakku menjejali kuping ini dengan alunan syair nan puitis diiringi soft orkestra. Lagu lagu balada yang mengukir hati menjadi lembut. Adalah Ebiet G.Ade namanya, penduduk Indonesia saya jamin hampir semua mengenalnya. Bersama syairnya saya tumbuh, bersama liriknya saya hidup, bersama orkestranya saya menikmati masa fitrah. Alhamdulillah…

Bajaj dan Becak

Mei 18, 1980

Sebentar lagi bajaj akan menyusul saudara roda tiganya becak untuk dijadikan rumpon. Kendaraan asal India ini sudah dianggap tidak layak lagi untuk moda transportasi angkutan darat. Namun bagi saya bajaj adalah kenangan, karena memiliki bajaj maka orang tua dibolehkan memiliki kredit BTN di Prumnas Klender pada tahun 80an.

Kenangan roda tiga juga teringat akan becak, saya sendiri tidak pernah melihat bapak menggenjot becak. Menurut cerita emak, bapak ‘narik’ becak ketika tahun 60an. Pada masa ‘narik’ becak inilah bapak turut menjadi saksi mata ketika Bung Karno hendak di bom saat mengunjungi Sekolah Perguruan Cikini.

Pasta Gigi Bata Merah

Mei 23, 1977

Ini baru murah meriah, bersihkan gigi dengan bata merah yang dihaluskan. dijamin masa depan gigi kita tidak cerah ceria, terbukti gigiku banyak yang hancur