“De, saya tidak tahu lagi, untuk apa saya harus belajar. Untuk apa lagi saya harus hidup. Saya tidak tahu untuk apa semua ini saya lakukan,” curhatku pada Dede (Wijaya Kusuma) adik kelasku. Dia menjawab dengan jawaban sederhana,”Kun, sudah sholat?”. “Belum,” jawabku. “Kun, sholat aja dulu,” kau memberi saran. Dan akupun sholat dhuha dengan penuh tangis airmata.
Arsip untuk ‘Diambang Maut’ Kategori
Untuk Apa Hidup?
Januari 1, 1991Trio Korban Tawuran
Juni 1, 1988Sebenarnya sih kami bertiga tidak pernah menjadi korban. Tapi entah kenapa saat kelas I SMA setiap kami bertiga pulang sekolah sudah dua kali hampir menjadi bulan-bulanan anak sekolah lain.
Saya bersama Deni Tardianto dan Fery Yuswanto pertama kali hampir menjadi korban saat di depan dubes amerika.
Kedua saat bus kami sudah mencapai tosari, dukuh atas.
Kesombongan itu…
Juni 1, 19871987 tahunnya, masih puber-pubernya. Aku ikut perpisahan SD ke pantai Anyer. Singkat cerita aku seperti yang lainnya naik ban dalam sebagai pelampung. berkhayal seperti orang kaya. Tak sadar kalau lambat laun aku terbawa arus balik ombak semakin menjauhi pantai.
Aku sadar kalau semakin jauh. Akan tetapi ketika melihat dasar laut yang masih terlihat dangkal akupun berpikir,” Ah masih cetek, lagipula kan sekarang aku sudah dewasa. Kakiku sudah panjang. Dengan mudah pasti akan mudah mencapai pantai berjalan kaki mengandalkan kakiku yang sudah panjang ini.” Demikianlah kesombongan itu akhirnya melupakan hukum alam.
Akupun mencoba untuk menjejak dasar laut. Sambil berpegang pada ban kujajal dasar laut sedalam apa sebenarnya. Sial, ban dalam itu licin dan tangan terlepas pegangannya. Akupun jatuh bebas ke dasar laut. Ini akhirnya akhir hidupku pikirku saat itu. Ah.. kematian itu akhirnya di depan mata. Detik-detiknya masih teringat. Ternyata setiap menjelang kematian waktu seperti berjalan melambat. Demikian yang kurasa.
Aku merosot terus ke dasar laut. Mati terlintas. Akan tetapi keinginan untuk tetap hidup juga masih ada. Ilham itupun datang, aku teringat ucapan guru olahraga SMP ku, Pak Ali almarhum. Beliau pernah mengatakan,”Kalau kalian tenggalam jangan panik dan jangan gerakkan kaki. Biarkan saja tenggelam sampai ke dasar. Lalu kalau sudah sampai dasar jongkoklah kemudian tekan kaki untuk meluncur ke atas.”
Ingat akan hal itu akupun langsung melaksanakan nasehatnya. Kubiarkan badan ini meluncur ke bawah. Sesampai di dasar kutekuk kaki lalu kutekan hingga aku meluncur ke permukaan air. Sesampai di permukaan kuminta tolong lalu badan ini meluncur lagi ke dasar lautan. Kuulang gerakan tadi, menekuk lutut kemudian naik ke permukaan lagi. Pada peluncuran ketiga akhirnya aku tertolong oleh seseorang. Alhamdulillah ku masih hidup lagi. Terima kasih kepada orang yang telah menolongku waktu itu.
Puber Maut
Juni 1, 1985Masa kecilku begitu indah. Dunia fitrah seorang anak manusia yang mengembara menembus ruang waktu. Pikiran bebas menjelajah kemanapun kita mau. Hati suci, bersih tak ternodai.
Akan tetapi masa itupun tiba. Masa aqil baligh seorang anak manusia yang suka tidak suka harus melaluinya. Namun disinilah masalahnya. Aku begitu mencintai dunia yang fitri ini. Dunia yang tanpa syak wasangka, dunia tanpa dendam, dunia tanpa tipu muslihat, dunia tanpa permusuhan abadi.
Dunia yang begitu bebas aku menjalaninya. Kenikmatan menjelajah yang tiada tara. Kebersihan hati yang tiada tara. Kini kudipaksa untuk meninggalkannya. Aku tak mau, tapi waktu berkata bahwa kau harus mau.
Ooh… sungguh ini berat bagiku. Aku tak siap… sungguh tak siap. Sampai akhirnya kubawa silet yang hendak kuputuskan nadi tanganku ini dengannya. Syukur alhamdulillah saat itu adikku datang, dan dia tidak tau aku akan melakukan apa, mencari kalau aku dipanggil bapak. Dan aku masih hidup sampai saat ini.