Arsip untuk Juli, 1988

High School, I’m Coming!

Juli 25, 1988

Berbekal map sewarna dengan teman teman, berangkat bersama naik metromini P15 bermaksud mendaftarkan diri ke jenjang yang lebih tinggi. SMA Negeri 4, sekolah favorit waktu itu. Sebenarnya dengan nilai yang kudapat saat itu saya dapat diterima di SMA lain yang juga favorit. Hanya sayang karena faktor ikut ikutan akhirnya kupilih yang teman-teman pilih sehingga kami tetap bersama dalam menempuh jejang sekolah berikutnya.

Turun dari metromini kami menyebrang jalan menuju ujung Jl. Batu III, alamat SMA berada. Sebelum kaki ini mencapai ujung jalan itu hatiku sempat berbisik, “Lulus dari SMA ini saya bertekad harus sudah mampu membaca Qur’an dan menjalankan shalat 5 waktu”. Dan kemudian, waktupun berlalu….

Bersama PMR

Juli 17, 1988

Kak Didot, Kak Kiki, Kak Boy, itu saja yang diingat. Mengapa memilih PMR, jawabannya sungguh sederhana, karena dalam sumpah atau janjinya tidak menyebutkan kalimat ‘bertaqwa kepada tuhan YME’. Sekali lagi saya bukannya anti tuhan tetapi karena saya meresa tidak konsekuen dengan ucapan saya. Alasan kedua karena dalam PMR yang diajarkan fokus pada pertolongan pertama, tidak ada yang namanya baris berbaris, semaphore, sandi atau apapun namanya yang sudah saya pelajari di Pramuka.

Kegiatan mingguan diisi dengan latihan membuat tandu dan P3K, latihan gerak jalan dilakukan hanya kalau ada perlombaan saja. Tiap akhir semester 1biasanya diadakan Lomba Tingkat II disingkat LT II, lomba dilaksanakan di cibubur untuk wilayah Jakarta Pusat. Pada LT II 1985, akhir Desember 1985, kami satu tenda dengan SMP Perguruan Cikini. Yang saya ingat adalah Boyke Bader Brilianto, lalu ada sony, Arif dan Vito. Pada malam unggun sekolah kami menampilkan ‘acapela’ lagu-lagu The Beatles, kelompok lagu yang jadi langganan PMR SMP kami.

Pada tahun kedua, LT II diadakan lagi di Cibubur. Anggota PMR kami bertambah beberapa orang, Erwan teman sekelas adalah salah satu anggota baru tersebut. Anak betawi gila dangdut. Hari-hari LT II sih tidak ada masalah. Yang jadi masalah justru malam api unggun. Dengan pedenya teman saya itu membawa alat musik ‘modern’, tamborin ! Bah, bagaimana ceritanya SMP kami membawkan lagu The Beatles diiringi tamborin. Langsung deh teman teman pada ngacir ke tenda. Dia sendiri bergabung dengan teman lain sealiran.

Pada saat kelas III diadakan Jumpa Bakti Gembira (Jumbara), yaitu lomba ketrampilan antar Kotamadya se DKI. Saya bertugas sebagai tim P3K kelompok SMP. Saat perlombaan ternyata kodya JakPus sebagai penampil pertama setelah upacara pembukaan. Setelah upacara pembukaan selesai maka tim Jakpus langsung bersiap mulai dari kelompok SMP, SMA dan KSR langsung memulai aksinya di depan tribun.

Tak disangka ternyata para senior memerintahkan skenario darurat dimana kami para tim P3K dengan sengaja naik ke podium dengan membawa ‘pasien’. Ceritanya podium yang tinggi itu adalah bukit yang harus didaki. Akan tetapi walaupun dengan skenario yang keren itu, tetap saja Tim Jakpus tidak meraih juaran dalam lomba tersebut.

Di Jumbara ini saya mendapatkan tanda tangan MbaK Titik Puspa my favourite artist dan Anggun C. Sasmi , itu lho pemilik lagu Snow On The Sahara. Kenangan bersama PMR ini salah satu kenangan terbaik dalam sejarah hidup. Demikian catatan akhir saya bersama PMR ini dibuat, adapun kekurang ingatan akan ditambah kembali suatu saat.

Mars PMI

Mochtar. H.S

Palang Merah Indonesia
Sumber Kasih Umat Manusia
Warisan luhur nusa dan bangsa
wujud nyata pengayom Pancasila

Gerak juangnya ke seluruh nusa
Mendarmakan bakti bagi ampera
Tunaikan Tugas Suci
Tujuan PMI
di persada Bunda pertiwa
Bagi Umat manusia di penjuru dunia
PMI mengantarkan jasa

Mars Palang Merah Remaja

Bhakti PMR

Palang Merah Remaja Indonesia warga Palang Merah sedunia
Berjuang berbakti penuh kasih sayang untuk rakyat semua
Bekerja dengan rela tulus ikhlas untuk yang tertimpa sengsara
Puji dan puja tidak dikejar… mengabdi tuk sesama…

Putra Putri Palang Merah Remaja Indonesia
Abdi rakyat sedunia luhur budinya
Putra Putri Palang Merah Remaja Indonesia
Abdi rakyat sedunia mulya citanya

Saos A & W

Juli 1, 1988

Makan di restoran pertama kali waktu ulang tahun Nanda. Kami naik metromini P15 arah senen. Turun di Jl. Sabang trus langsung masuk ke restoran cepat saji yang waktu itu terbilang langka. Soalnya yang namanya McD saja belum ada.

Masuk restoran kami langsung pesan makanan. Saya bingung karena memang gak tau harus pesan apa. Ya sudah, ikut pesanan teman saja biar gak pusing. Pesanan diambil, isinya 2 ayam, nasi dan minuman segelas. Aneh banget makan ayam kok cuma begini doang. Biasanya yang namanya olahan ayam tuh di opor, atau pada umumnya diolah dengan bumbu yang yahuuuud, olahan ayam yang biasa dibikin emak waktu lebaran. Tapi ini kok ayam cuma ditepungin doang. Tapi anehnya, walau cuma ditepungin harganya kok selangit ya. Dah ah, ikut teman dulu keatas buat ngabisin nih ayam.

Sesampai di atas saya langsung cari meja teman-teman. Lho, kok semuanya dah pakai sambel. Darimana tuh sambel ya? “Ambil disitu kun” kata seorang teman. Ooh… yang seperti keran itu. Siip…. Sesampai di tempat sambal bingung lagi, bagaimana cara ngeluarin sambalnya. Soalnya saya puter seperti keran gak mau keluar. Wah, kalau tanya teman nanti diketawain bisa malu nih. Akhirnya cari akal, pura-pura cuci tangan aja sambil ngintip kalau ada yang lagi ambil sambal. Akhirnya gak terlalu lama datang orang ngeluarin tuh sambal dari tempatnya.

Ternyata bukan diputar melainkan di pencet! Huh… nyusahin…