1987 tahunnya, masih puber-pubernya. Aku ikut perpisahan SD ke pantai Anyer. Singkat cerita aku seperti yang lainnya naik ban dalam sebagai pelampung. berkhayal seperti orang kaya. Tak sadar kalau lambat laun aku terbawa arus balik ombak semakin menjauhi pantai.
Aku sadar kalau semakin jauh. Akan tetapi ketika melihat dasar laut yang masih terlihat dangkal akupun berpikir,” Ah masih cetek, lagipula kan sekarang aku sudah dewasa. Kakiku sudah panjang. Dengan mudah pasti akan mudah mencapai pantai berjalan kaki mengandalkan kakiku yang sudah panjang ini.” Demikianlah kesombongan itu akhirnya melupakan hukum alam.
Akupun mencoba untuk menjejak dasar laut. Sambil berpegang pada ban kujajal dasar laut sedalam apa sebenarnya. Sial, ban dalam itu licin dan tangan terlepas pegangannya. Akupun jatuh bebas ke dasar laut. Ini akhirnya akhir hidupku pikirku saat itu. Ah.. kematian itu akhirnya di depan mata. Detik-detiknya masih teringat. Ternyata setiap menjelang kematian waktu seperti berjalan melambat. Demikian yang kurasa.
Aku merosot terus ke dasar laut. Mati terlintas. Akan tetapi keinginan untuk tetap hidup juga masih ada. Ilham itupun datang, aku teringat ucapan guru olahraga SMP ku, Pak Ali almarhum. Beliau pernah mengatakan,”Kalau kalian tenggalam jangan panik dan jangan gerakkan kaki. Biarkan saja tenggelam sampai ke dasar. Lalu kalau sudah sampai dasar jongkoklah kemudian tekan kaki untuk meluncur ke atas.”
Ingat akan hal itu akupun langsung melaksanakan nasehatnya. Kubiarkan badan ini meluncur ke bawah. Sesampai di dasar kutekuk kaki lalu kutekan hingga aku meluncur ke permukaan air. Sesampai di permukaan kuminta tolong lalu badan ini meluncur lagi ke dasar lautan. Kuulang gerakan tadi, menekuk lutut kemudian naik ke permukaan lagi. Pada peluncuran ketiga akhirnya aku tertolong oleh seseorang. Alhamdulillah ku masih hidup lagi. Terima kasih kepada orang yang telah menolongku waktu itu.