Permusuhan itu akhirnya berakhir pada 22 April 1986 setelah setahun lamanya kami saling berdiam diri walaupun selama setahun itu kami duduk sebangku. Perang dingin yang saya lupa apa penyebabnya membuat kami saling tutup mulut tak bersapa.
Sebenarnya selama selang waktu tersebut saya sudah berusaha mencoba untuk berbaikan dengannya, ini dibuktikan dengan permohonan saya kepada Agung, teman sekelas kami, untuk mempertemukan kami. Entah mengapa ketika kami sudah bertemu pandang lidah kelu rasanya. Mata jadi menunduk, kata tak terucap.
Begitulah, akhirnya pada bulan April 1986 selepas ulangan Bahasa Indonesia saya meminta maaf, aneh diapun juga dengan cepat memaafkan dan meminta maaf juga. Memang susah yang namanya meminta maaf.
Kelas II kami berpisah dan akhirnya kami sekelas lagi saat kelas III. Lalu kami menjadi teman karib dalam sebuah kelompok. Kami bertemu lagi ketika SMA walau tidak pernah sekelas. Demikianlah seterusnya akhirnya kami kembali berkumpul dalam suatu forum diskusi sehingga kami menjadi lekat. Tetap melekat sampai masa kuliah hingga akhirnya karena perbuatan bodoh saya yang menyebabkan saya menjadi malu dihadapannya.
Wahai orang yang kumaksud, maafkan aku…!