Ini pengusaha warungan sukses dikampungku. Letaknya bersebelahan dengan warung Pak Parjan, akan tetapi warung ini laris sekali. Awal kesuksesannya warung Pak Tejo sempat diisyukan memelihara tuyul. Saya dan teman-temanĀ tentu saja heboh, namanya juga anak kecil. Akan tetapi mungkin waktu itu Pak Tejo tidak peduli dan terus saja berjualan. Lama kelamaan warungnya memang menjadi besar, saat inipun ketika sudah pindah ke Cibitung beliau masih membuka usaha warungan termasuk anak-anaknya dibuatkan warung.
Lokasinya yang berada di ujung gang membuat warung ini selalu jadi tempat tongkrongan anak-anak. Apalagi ketika tempat arang yang berada diluar dibuatkan kotak kayu, diatasnya otomatis jadi tempat duduk anak-anak. Pun ketika sore hari, persis di depan kotak kayu tadi gerobak bubur ayam sudah hadir tepat waktu.
Setiap lebaran dan perhelatan ‘Jakartaper’ anak-anak Pak Tejo selalu membeli barang-barang baru. Kami yang hidupnya hanya pas-pasan cuma bisa melihat dan meminjam saja. Zulham, Sulis dan Fajar adalah anak-anaknya yang laki-laki. Perkelahian antar tiga anak lelaki itu sudah rutin. Ketiga anak perempuannya Yayuk, nining,… (lupa)