Arsip untuk Agustus, 1984

Pak Parjan

Agustus 22, 1984

Saya suka sekali diskusi apa saja dengan bapak ini. Pengagum berat bung karno, jadi kalau ngobrolin politik gak jauh dari masa kejayaan orde lama. kadang-kadang ngobrolin aneka cerita wayang.

Istrinya, Bu Parjan, berjualan barang kebutuhan sehari-hari seperti warungnya Pak Tejo. Di warung inilah kecepatan membaca saya terasah. Soalnya saya paling suka mencari sebuah kata yang tertulis di bungkus barang dagangannya. Misalnya mencari kata kudus, lalu teman saya mencari tulisan ‘kudus’ diantar tumpukan barang. Tulisan kecil diantara sekian banyak barang bikin susah juga. Tapi ini salah satu cara belajar membaca yang efektif, murah, efisien, menggembirakan.

Pernah juga waktu bu parjan jualan kacang atom, yaitu kacang tanah yang dilumuri adonan tepung gurih. Saya ikut bantu masukin kacang ke plastik kecil-kecil. setelahnya saya dikasih uang kadang Rp 25,00 kadang Rp 50,00 selain mendapat sekantong kacang atom yang gurih. Sewaktu kakak tugas di Singapore, rumah pak parjan adalah tumpuan kami untuk berkomunikasi dengannya. Yang namanya telpon pribadi saat itu sangat jarang yang memilikinya.

Hanya sayang, kesenangan saya berdiskusi politik dengan pak parjan dilarang oleh bapak. Alasannya jangan ikut-ikutan politik, katanya. Padahal ketika saya mendengar sayapun berpikir. Alhasil semakin saya tahu banyak tentang bung karno, semakin tidak simpati saya padanya. Banyak alasannya, misalnya saja masalah pengkhianatan beliau kepada Tengku Daud Beureuh, lalu tindakan adu domba antar umat beragama ketika berceramah di Kalimantan. Ada lagi masalah kediktatorannya ketika menjadi Yang Mulia Presiden atau ketika menjebloskan ulama Buya Hamka. Saya pribadi malah berpikir negara ini yang sudah berpuluh tahun merdeka tidak maju-maju karena pondasi yang rapuh diletakkan oleh Bung Karno, disempurnakan oleh Pak Harto. Presiden paska reformasi hanya sebagai ‘tukang bersih-bersih’ saja.