Tahun ini aku masuk sekolah. Sebenarnya aku terlambat setahun dikarenakan ketika masaku tiba untuk sekolah, SD yang ingin kumasuki sedang direnovasi dan untuk sementara sekolah dipindahkan ke SD Bendungan Hilir. Aku lupa apakah aku yang tidak mau sekolah atau orang tua yang menganggap terlalu jauh. It’s ok, gpp.
Dengan berbaju putih dan bercelana biru (waktu itu celana SD berwarna biru sedangkan SMP berwarna coklat) aku tak memakai tas karena memang belum punya. Jadi buku yang cuma beberapa itu kutenteng saja. Sepatu bot yang lagi trend saat itu kupakai tanpa kaus kaki. Tidak akan lecet karena jarak dari rumah ke sekolah hanya beberapa meter saja.
Buku yang saya ingat waktu itu adalah buku bahasa dan buku berhitung yang bergambar seorang anak berkepala botak sedang membawa sekeranjang telur. Buku bahasa Indonesia termasuk buku yang paling menjemukan. Bayangkan saja untuk membaca ini budi saja susunannya seperti ini :
i n i b u d i
i ni bu di
ini budi
i ni bu di
i n i b u d i
Bagiku saat itu cara membaca seperti ini sangat membosankan, waktu itu kupikir mengapa tulisan yang sama diulang-ulang, kan sudah jelas kelima baris tersebut kalau dibaca ini budi. Oleh sebab itu buku bahasa Indonesia kelas 1a, 1b, 1c dengan cepat kulahap. Akhirnya karena sudah bosan dengan bacaan kelas satu akupun membaca buku bahasa Indonesia kelas 2. Sayang waktu itu tidak ada yang namanya kelas akselerasi.
Kecepatanku membaca juga ditunjang oleh kebiasaanku sebelum masuk SD. Saat itu di depan sekolah ada seorang penjual majalah bekas.
Yang dijual saat itu adalah majalah Bobo, majalah ananda, majalah kucica,majalah kuncung, majalah kawanku (kawanku saat itu berbeda dengan kawanku saat ini yang sudah kurang bergizi lagi, ada lagi majalah hai (ini juga majalah hai yang berbeda dengan majalah hai saat ini, majalah hai saat itu berisi artikel yang sangat bagus) dan beberapa majalah lain.
Aku sering membeli majalah bekas itu yang uangnya kuambil dari uang dagangan emak, sorri mak. Memang aku belum bisa membaca, yang kunikmati saat itu adalah gambar-gambarnya yang berwarna warni. Lalu banyak permainan macam labirin yang sangat kusuka. Nah, ketika aku mulai bisa membaca maka koleksi majalahku langsung tandas habis kubaca.
Kemudian buku yang juga berkesan adalah buku berhitung bukan buku matematika seperti yang anak SD gunakan saat ini. Buku berhitung saat itu sungguh asyik untuk dikunyah. Teknik penyajiannya yang sederhana membuatku sangat suka matematika hingga sekarang.