Juragan Wartel

Maret 14, 1998 oleh ssehati

Hati-hatilah dalam berdoa karena tiap doamu walaupun kecil dalam hati maka Tuhan pasti akan mengabulkan doamu.

Karena begitulah yang terjadi. Menjelang kelulusan kuliah saya dan teman-teman mulai merancang masa depan saling bertanya hendak kerja dimana. Jawaban teman-teman pada umumnya sama, mencari kerja dimana saja. Tetapi jawaban saya sama sekali berbeda,” Gue gak mau jadi karyawan, gue maunya jadi direktur!” Dan Kun Fayakun, Allah Maha Mengabulkan Doa. Tahun 1998 resmilah saya menjadi direktur, direktur utama malah. Jabatan resmiku adalah Direktur Utama PT. Manunggal Perkasa. Lengkap dengan Akta Notaris, SIUP, NPWP. Jadi bukan sembarang direktur, saya adalah direktur yang sah secara hukum. He..he..

Yah, apa mau dikata, dahulu saya berucap inginnya jadi direktur dan Allah memberikan kontan atas doa saya. Kalau mau protes maka teringat “Maka Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?” Ngeri kalau kufur nikmat jadi terima saja doa yang pernah kupanjatkan. Mudah-mudahan jabatan ini yang akan menjadi alat kesuksesanku nanti. Aminn…

Sunnah

Desember 31, 1993 oleh ssehati

Sekali lagi waktu berkata
Bahwa semua yang ada
Di sekelilingmu akan menjauh
Bahkan lenyap untuk selamanya

Tak ada yang kekal
Sekuat apapun engkau menahannya
Jika Waktu berkata “hilang” !
Maka hilanglah
Bahkan bila engkau menahannya
sekuat apapun

Satu persatu akan pergi
Baik suka ataupun terpaksa
Kini satu lagi hilang
lenyap…

Sesaat lagi dua… tiga…
hilang ditelan waktu
Terimalah

:Selamat Jalan Teguh Kurniawan dan Prayogo

Menggugat Ukhuwah

Desember 22, 1992 oleh ssehati

Terbayang sudah akan indahnya kuliah di MIPA UI alias ‘pesantrennya UI’. Banyaknya ikhwah, persaudaraan yang kental, senyum yang tulus. Namun semuanya pupus karena kenafian diri.

Karena marah, karena terlalu idealis, karena menggugat, karena penakut, karena kecewa, karena pergolakan batin. Campur menjadi satu. Dan aku keluar dengan tidak hormat, keluar tanpa ijin. Aku membuat keluargaku kecewa. Maafkan anakmu ini pak yang tak mampu membuatmu bangga bahkan dengan hanya sekadar tetap kuliah di UI.

Masjid-masjid

Agustus 22, 1991 oleh ssehati

Masjid utama saya adalah Masjid Mahabatillah, lokasinya dekat dengan kali krukut. Guru mengaji yang masih saya ingat adalah Pak Mahmud. Dimasjid ini saya pernah belajar mengaji. Seperti biasanya, umur belajar mengaji saya tidak lebih dari dua hari. Malas bukan sebab utama mengapa saya tidak mau belajar mengaji. Hal pertama yang menyebabkan saya tidak mengikuti pengajian adalah karena gurunya yang galak.

Yang dimaksud galak menurut saya sangat tidak masuk akal. Coba anda bayangkan, kalau anda belajar baca qur’an pertama kali dan baru pada hari itu belajar membaca qur’an maka apakah wajar kalau kita sama sekali tidak tahu huruf atau susunan huruf apa yang ditunjuk oleh guru ngaji itu. Begitulah yang saya alami. Pada hari pertama belajar membaca qur’an saya langsung disuruh membaca, lha bagaimana ini? dan konsekuensi dari ketidakmampuan membaca adalah…. pukulan atau sabetan. Beuh, saya datang ke tempat suci ini untuk belajar karena saya tidak tahu. Saya datang tidak untuk minta dipukul. Jadi demikianlah selama bertahun tahun saya tersesat dalam kebutaan huruf hijaiyah sampai akhirnya saya berhasil membuka mata saat pertengahan kelas III SMA.

Alasan kedua adalah akhlak guru. Di Masjid Mahabatillah ini saya bermaksud belajar langsung dari Pak Mahmud karena dimata saya beliau adalah sosok yang menyejukkan. Raut wajahnya lembut, tutur katanya halus. Makanya saya semangat sekali untuk belajar padanya. Namun apa daya, ketika giliran saya untuk diajar malah dilempar ke salah satu muridnya yang saya sangat tahu bagaimana kelakuannya di luar masjid. Saya yang tidak paham agama sangat tahu kalau dalam Islam pergaulan pria dan wanita sangat diatur dan orang yang mengajar saya ini sudah terekam jelas reputasinya. Sayapun keluar lagi dari pengajian.

Masjid Al Khair di Gang Mas dekat sma 35 adalah masjid langganan shalat jum’at.

Masjid Al Abror di Benhil belakang pasar menjadi tempat favorit shalat taraweh.

Getek

Agustus 22, 1991 oleh ssehati

Bagi warga kami terutama dari Rw 01 s.d. Rw 03 hampir bisa dipastikan menggunakan jasa penyeberangan yang namanya getek ini. Untuk melintasi kali krukut sebenarnya bisa melalui jembatan dekat masjid Mahabatillah. Akan tetapi rasanya cepat sampai kalau kita menggunakan rute getek yang letaknya di Rw 01.

Getek terbuat dari papan kayu yang diberi tuduh penahan hujan dan panas. Otot adalah sumber tenaga yang dipakai untuk menggerakkan getek. Caranya ialah, pada salah satu ujung tiang getek terdapat tiang. Pada tiang inilah dipasang besi tempat melintas tambang baja yang ujung-ujungnya diikat di kedua sebrang sungai.

Tepat dibawah besi tempat tambang baja diletakkan kotak kayu ukuran tidak terlalu besar tempat konsumen memberikan uang jasa. Tapi bagi anak sekolah kadang-kadang uang jasa itu tetap bersemayam dikantongnya saja. Jam operasional getek ini hampir dipastikan 24 jam, soalnya dibagian belakang seperti ada dipan buat tidur.

Wajib Nonton dan Benhil Bobrok

Agustus 22, 1991 oleh ssehati

Waktu SD sering ada kewajiban bagi anak-anak untuk nonton film bioskop dengan tema perjuangan, misalnya film Janur Kuning, Serangan Fajar, Pasukan Berani Mati. Mungkin kewajiban menonton ini salah satu program pemerintah untuk menumbuhkan cinta tanah air.

Bagi kami anak-anak yang namanya nonton di bioskop adalah hal langka, jadi tawaran nonton di bioskop adalah salah kesempatan merasakan hidup agak ‘mewah’. Film biasanya diputar di bioskop Benhil yang letaknya di lantai dua pasar Benhil. Bioskop yang hanya memiliki satu layar itu dan memang saat itu setiap bioskop hanya memiliki satu layar. Sedangkan bioskop Benhil yang satunya lagi tidak pernah kami gunakan untuk nonton film wajib. Warga sekitar menujuluki bioskop ini Benhil Bobrok.

Sebenarnya nama bioskop ini adalah Bioskop Benhil, julukan bobrok bisa dinilai dari deskripsi sebagai berikut :

  1. Yang disebut kursi adalah bangku panjang terbuat dari papan yang disekat untuk meletakkan tangan. Ini cukup aneh mengapa lengan kursi hanya untuk satu orang padahal jelas-jelas kalau kita duduk bersebelahan otomatis dibutuhkan dua lengan kursi. Mungkin agar bisa pegang-pegangan.
  2. Karena terbuat dari kayu maka disarankan agar membawa obat kutu busukuntuk mengurangi resiko digigit kutu atau bisa disebut ‘bangsat’.
  3. Letak bangku yang ‘flat’ dari depan ke belakang membuat orang yang duduk di belakang terpaksa jongkok atau duduk di sandaran kepala.
  4. Jangan lupa bawa ‘lotion’ anti nyamuk
  5. Boleh protes kalau film tiba-tiba ngadat atau film terlalu lama dimulainya. Cukup demokratis.
  6. Kalau film baru setengah main ada jam istirahat dimana penonton bisa membeli makanan dan minuman dahulu.
  7. Karena posisi bioskop lebih rendah dari kali krukut maka kalau musim hujan harap sandal ditenteng dan duduklah dengan manis di papan sandaran kepala karena tempat duduknya terendam air. Jangan lupa sandal selalu dipegang, kalau lepas harus siap siap keliling bioskop mencari sandal yang hanyut.
  8. Bagi anak-anak yang ingin nonton gratis ada beberapa cara untuk masuk. Yang paling favorit adalah masuk dengan cepat dan kalau ditanya karcisnya mana bilang saja “karcisnya sama yang di belakang bang” lalu kabur cepat masuk ke bioskop. Atau pura-pura menjadi adik dari orang yang mau bantu, syukur-syukur ada yang kasihan.

Kalau lebaran tiba saat siang hari hampir pasti bioskop ini penuh oleh calon penonton yang dompetnya lagi penuh uang angpaw. Film-film Dono Kasino Indro jadi langganan lebaran. Saat ini bioskop tersebut sudah almarhum, digantikan apartemen mewah. Mudah-mudahan apartemennya tidak disebut ‘Apartemen Bobrok’

Cecep

Agustus 22, 1991 oleh ssehati

Ini adalah tokoh yang sangat terkenal. Cecep panggilannya. Tidak jelas masa lalunya. Yang teringat adalah orang ini pernah telanjang bulat saat idul fitri. Dia asyik nongkrong di tembok yang menjadi tempat masuk ke rumah saya. Jadilah anak-anak takut untuk minta duid lebaran ke ‘rumah’ saya.

Pernah juga ketika ramai-ramainya kasus Petrus (penembakan misterius) orang ini tiba-tiba menghilang. Katanya sih untuk menghilangkan tatonya. Memang benar, ketika muncul kembali tato yang mulanya menghias tubuh sudah hampir luntur. Sepertinya dihapus paksa dengan setrikaan. Saat ini saya tidak tahu keberadaannya.

Si Kun Anak Kuliahan

Juli 20, 1991 oleh ssehati

Kuliah itu apa? akupun tak tahu. Saat itu aku tidak tahu harus melakukan apa. Disaat lain teman-temanku sudah mendaftar kuliah baik di perguruan tinggi negri maupun di perguruan tinggi swasta. SPMB yang kuikuti tidak membawa hasil. Aku gamang ketika ditawari kakak untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku mau tapi tidak tahu harus mengambil jurusan apa.

Setelah gagal di SPMB aku mendaftar di Gunadarma, ambil jurusan informatika gelombang ke III alias gelombang terakhir. Aku dinyatakan gagal ujian namun bagi mereka yang gagal akan diadakan pertemuan khusus pada malam hari. Karena penasaran aku datang juga malam itu. Aku masuk ruangan wawancara dan diberitahu sekali lagi kalau aku memang tidak diterima di Gunadarma. Akan tetapi kalau aku memang ingin sekali kuliah disana mereka bisa mengusahakan dengan syarat membayar biaya lebih yang besarnya Rp 3.000.000,00. Dengan tegas saya menolak tawaran itu, kupikir kalau memang sudah tidak layak karena tidak mampu secara intelektual ya sudah jangan dipaksakan.

Aku bingung karena pintu pendaftaran perguruan tinggi swasta sudah pada tutup. Akhirnya kudapat informasi kalau Universitas Jayabaya masih membuka pendaftaran. Akupun menelpon kakakku dan dia menyarankan aku masuk Teknik Sipil, jurusan yang masih ada hubungan dengannya. Aku yang tidak tahu apa-apa menurut saja apa katanya. Sungguh aku tidak tahu mengapa harus memilih jurusan ini. Sudahlah yang penting aku kuliah. Setelah melewati ujian masuk akupun diterima di jurusan Teknik Sipil Universitas Jayabaya pada tahun 1991.

Pada tahun 1992 aku ikut lagi tes SPMB. Pilihan pertama Teknik Sipil UI dan pilihan kedua Geografi UI. Alhamdulillah aku diterima di pilihan kedua. Akupun mendaftar dan diterima di UI, bangga walau masuk di jurusan yang tidak terkenal. Akan tetapi karena suatu hal pada bulan Desember 1992 aku mengundurkan diri dari UI. Sangat disayangkan memang tapi saat itu aku benar-benar dalam kondisi gamang. Penjelasan detilnya tetap saya tulis akan tetapi saya buat privat. sorri.

Untuk Apa Hidup?

Januari 1, 1991 oleh ssehati

“De, saya tidak tahu lagi, untuk apa saya harus belajar. Untuk apa lagi saya harus hidup. Saya tidak tahu untuk apa semua ini saya lakukan,” curhatku pada Dede (Wijaya Kusuma) adik kelasku. Dia menjawab dengan jawaban sederhana,”Kun, sudah sholat?”. “Belum,” jawabku. “Kun, sholat aja dulu,” kau memberi saran. Dan akupun sholat dhuha dengan penuh tangis airmata.

Terima Zakat

April 24, 1990 oleh ssehati

Hari ini 24 April 1990 adalah hari terakhir bulan Ramadhan, esok hari raya Idul Fitri11 Syawal 1410 H. Siang itu tiba-tiba dari arah belakang punggungku ditepuk, tidak cukup keras tapi cukup bikin kaget, oleh kawan sebangku SMA. Aku yang sedang asyik menyetrika baju bertegur sapa dengannya. Tanpa basa-basi aku langsung disodori amplop putih memang begitulah gayanya, “Uang Zakat”, katanya.

Aku terdiam, merenung… apa pantas aku dizakati. Mungkin karena orangtuaku adalah seorang penjaga sekolah makanya aku layak dizakati. Aku tidak tersinggung hanya saja aku merasa tidak layak untuk menerimanya. Lalu kuucapkan terima kasih padanya dan tak lama dia pergi. Akupun menyetrika kembali. Kembali kutanya pada diri, apakah aku pantas dizakati?